Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan

Senin, 29 Desember 2014

Pruritus

         Penyakit pruritus merupakan masalah kesehatan masyarakat yang memiliki angka kejadian relatif tinggi. Pada tahun 2007 di Indonesia ditemukan prevalensi sebesar 60-70%. Penyakit pruritus ini walaupun telah menginfeksi masyarakat

Sabtu, 13 Juli 2013

Laporan Tugas Praktek

LEMBAR PENGESAHAN

Permasalahan ini kami ambil dari Ruang Interne Zaal R.S. AL-IRSYAD SURABAYA, saat mengikuti Praktek Medical Bedah yang dilaksanakan pada tanggal 06 – 17 Juli 2004


  
Surabaya,                 2004
Mahasiswa


(AGUSTINI SEVENTINA )
NIM : 22004



Mengetahui :

Kepala Ruangan Interne Zaal                                             Pembimbing Ruangan UGD
R.S. AL-IRSYAD                                                                     R.S. AL-IRSYAD


(                              )                                                                (                                 )
NIP.                                                                                        NIP.


Pembimbing Pendidikan

AKPER UNMUH SURABAYA




(                                          )
  NIP.


KATA PENGANTAR


Dengan Rahmat dan hidayahnya saya bersyukur yang tiada batas ke hadirat Allah SWT yang mana saya sudah menyelesaikan tugas praktek yang dilaksanakan bulan Juli 2004.
Bila mana dalam makalah ini terdapat suatu kesalahan dan kekeliruan, saya berharap kritik dan sarannya. Saya akhiri dengan bacaan Alhamdulillah.



     Penulis
























BAB I



A.    DEFINISI

Penyakit infeksi akut yang mengenai saluran cerna dengan gejala demam lebih dari 7 hari, gangguan pada saluran cerna, gangguan kesadaran (Kapita Selekta Kedokteran, edisi 3, 2000)

B.     ETIOLOGI

Penyebab dari Thypus Abdominalis itu adalah kuman “Salmonella Thyposa”.

C.    PATOFISIOLOGI

Makanan
 
Penularan penyakit demam Thypoid disebabkan secara fecal dan oral dan banyak terdapat di masyarakat yang kurang baik dalam membersihkan lingkungan, sehingga terjadi pencemaran.

 




















D.    GEJALA KLINIS

1.      Bibir kering, pecah-pecah
2.      Lidah kotor, berselaput putih dan tepi hiperemi (lidah tifoid)
3.      Perut agak kembung dan nyeri tekan.
4.      Limfa membesar dan nyeri tekan.
5.      Kesadaran apatis
6.      Bradikardi relatif
7.      Suhu badan meningkat

E.     PEMERIKSAAN PENUNJANG

1.      Pemeriksaan darah lengkap (leukosit, eritrosit, trombosit, Hb)
2.      Leukopenia dengan limfosit relatif
3.      Uji widal titer antibodi 0 = 1/200

F.     PENATALAKSANAAN

Terdiri dari tiga bagian :
1.      Perawatan
-          Tirah baring absolut sampai minimal 7 hari bebas demam atau kurang lebih selama 14 hari.
-          Posisi tubuh harus diubah-ubah (± 2 jam selang-seling)
-          Mobilisasi sesuai kondisi.
2.      Diet.
-          Makanan diberikan secara bertahap sesuai dengan keadaan penyakitnya (mula-mula air lunak, makanan biasa)
-          Mengandung cukup cairan, TKTP.
-          Bahan makanan tidak boleh mengandung banyak serat (rendah selulosa) tidak merangsang dan mennimbulkan gas.
-          Susu dua kali setiap hari
3.      Obat.
-          Anti mikroba
·         Kloromphenikol (hari bebas panas)
·         Ampicillin atau amoxillin MG (hasil bebas panas)
·         Cotrimoxazole (kobinasi trimetropin dan sulfa metoxazole)
-          Obat-obat symtomatik
·         Antipiretik
·         Kortikosteroid
·         Suportif
·         Penenang
Operasi dilakukan bila terjadi perforasi

G.    KOMPLIKASI

1.      Usus halus
a.       Perdarahan usus
b.      Perforasi usus
c.       Peritonitis
2.      Diluar usus
a.       Kardiovaskuletr : kegagalan sirkulasi perifer (renjatan atau sepsis) miokardiotis, trombosis, tropmboplebitis
b.      Paru : pneumonia, empiema, pleuritis
c.       Darah : anemia hemoplitik, trombositopenia, sindrom uremia, hemolitik
d.      Hepar : hepatitis
e.       Ginjal : glumorulanefritis, pyelonefritis, dan perirephritis
f.       Tulang : osteomilitis, periostitis, spondilitis, arthritis
g.      Neuropsikiatrik : dellirium, miningismus, meningitis, polineuritis perifer, syndroma gullin gaire, psikosis dan syndroma katatenia.














BAB II

KONSEP ASKEP PADA THYPUS ABDOMINALIS

A.    PENGKAJIAN
I.  PENGUMPULAN DATA
1.      IDENTITAS
Didalam identitas meliputi nama, umur, jenis kelamin, alamat, pendidikan, no. Registerasi, status perkawinan, agama, pekerjaan, tinggi badan, berat badan, tanggal MR.
2.   KELUHAN UTAMA
pada pasien Thypoid biasanya mengeluh perut merasa mual dan kembung, nafsu makan menurun, panas dan demam.
3.      RIWAYAT PENYAKIT DAHULU
Apakah sebelumnya pasien pernah mengalami sakit Thypoid, apakah tidak pernah, apakah menderita penyakit lainnya.
4.      RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG
Pada umumnya penyakit pada pasien Thypoid adalah demam, anorexia, mual, muntah, diare, perasaan tidak enak di perut, pucat (anemi), nyeri kepala pusing, nyeri otot, lidah tifoid (kotor), gangguan kesadaran berupa somnolen sampai koma.
5.      RIWAYAT KESEHATAN KELUARGA
Apakah dalam kesehatan keluarga ada yang pernah menderita Thypoid atau sakit yang lainnya.
6.      RIWAYAT PSIKOSOSIAL
Psiko sosial sangat berpengaruh sekali terhadap psikologis pasien, dengan timbul gejala-gejala yang dalami, apakah pasien dapat menerima pada apa yang dideritanya.
7.      POLA-POLA FUNGSI KESEHATAN
1)      Pola pesepsi dan tatalaksana kesehatan
Perubahan penatalaksanaan kesehatan yang dapat menimbulkan masalah dalam kesehatannya.
2)      Pola nutrisi dan metabolisme
Adanya mual dan muntah, penurunan nafsu makan selama sakit, lidah kotor, dan rasa pahit waktu makan sehingga dapat mempengaruhi status nutrisi berubah.
3)      Pola aktifitas dan latihan
Pasien akan terganggu aktifitasnya akibat adanya kelemahan fisik serta pasien akan mengalami keterbatasan gerak akibat penyakitnya.
4)      Pola tidur dan aktifitas
Kebiasaan tidur pasien akan terganggu dikarenakan suhu badan yang meningkat, sehingga pasien merasa gelisah pada waktu tidur.
5)      Pola eliminasi
Kebiasaan dalam buang BAK akan terjadi refensi bila dehidrasi karena panas yang meninggi, konsumsi cairan yang tidak sesuai dengan kebutuhan.
6)      Pola reproduksi dan sexual
Pada pola reproduksi dan sexual pada pasien yang telah atau sudah menikah akan terjadi perubahan.
7)      Pola persepsi dan pengetahuan
Perubahan kondisi kesehatan dan gaya hidup akan mempengaruhi pengetahuan dan kemampuan dalam merawat diri.
8)      Pola persepsi dan konsep diri
Didalam perubahan apabila pasien tidak efektif dalam mengatasi masalah penyakitnya.
9)      Pola penanggulangan stress
Stres timbul apabila seorang pasien tidak efektif dalam mengatasi masalah penyakitnya.
10)  Pola hubungan interpersonil
Adanya kondisi kesehatan mempengaruhi terhadap hubungan interpersonal dan peran serta mengalami tambahan dalam menjalankan perannya selama sakit.
11)  Pola tata nilai dan kepercayaan
Timbulnya distres dalam spiritual pada pasien, maka pasien akan menjadi cemas dan takut akan kematian, serta kebiasaan ibadahnya akan terganggu.
8.      PEMERIKSAAN FISIK
1)      Keadaan umum
Biasanya pada pasien  typhoid mengalami badan lemah, panas, puccat, mual, perut tidak enak, anorexia.

2)      Kepala dan leher
Kepala tidak ada bernjolan, rambut normal, kelopak mata normal, konjungtiva anemia, mata cowong, muka tidak odema, pucat/bibir kering, lidah kotor, ditepi dan ditengah merah, fungsi pendengran normal leher simetris, tidak ada pembesaran kelenjar tiroid.
3)      Dada dan abdomen
Dada normal, bentuk simetris, pola nafas teratur, didaerah abdomen ditemukan nyeri tekan.
4)      Sistem respirasi
Apa ada pernafasan normal, tidak ada suara tambahan, dan tidak terdapat cuping hidung.
5)      Sistem kardiovaskuler
Biasanya pada pasien dengan typoid yang ditemukan tekanan darah yang meningkat akan tetapi bisa didapatkan tachiardi saat pasien mengalami peningkatan suhu tubuh.
6)      Sistem integumen
Kulit bersih, turgor kulit menurun, pucat, berkeringat banyak, akral hangat.
7)      Sistem eliminasi
Pada pasien typoid kadang-kadang diare atau konstipasi, produk kemih pasien  bisa mengalami penurunan (kurang dari normal). N ½ -1 cc/kg BB/jam.
8)      Sistem muskuloskolesal
Apakah ada gangguan pada extrimitas atas dan bawah atau tidak ada gangguan.
9)      Sistem endokrin
Apakah di dalam penderita thyphoid ada pembesaran kelenjar toroid dan tonsil.
10)  Sistem persyarafan
Apakah kesadarn itu penuh atau apatis, somnolen dan koma, dalam penderita penyakit thypoid.
B.  ANALISA DATA
*        Ds     =    Pasien mengatakan badannya demam, panas
Do    =    Suhu meningkat, bibir kering, lidah kotor dan tepi lidah dan tengah hiperomi
Mx    =    Peningkatan suhu tubuh
Kp    =    Invasi kuman salmonella thyptii
*        Ds     =    Pasien mengatakan tidak selera untuk makan (anorixia)
Do    =    perut kembung, mual, muntah.
Mx    =    Peningkatan suhu
Kp    =    Penurunan nafsu makan.

C.  DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.      Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan invasi kuman salmonella thypii b/d suhu lebih dari normal, mukosa bibir kering, lidah kotor, tepi dan tengah lidah hiperemi.
2.      perubahan nutirsi (kurang dari kebutuhan) berhubungan dengan anorexia d/d mual, muntah dan perut kembung.
3.      cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakit d/d paien ketakutan dan gelisah.
4.      resiko terjadinya kekurangan vol cairan berhubungan dengan intake yang kurang dari kebutuhan.
5.      potensial terjadinya penularan berhubungan dengan sifat kuman salmonella.

DX : 1
Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan invasi kuman salmonella thypii d/b suhu lebih dari normal, nukosa bibir kering, lidah kotor tepi dabn tengah lidah hiperemi.
Tujuan : suhu tubuh dapat kembali normal (36 oC –37oC)
Kh       : -  Suhu tubuh normal (36oC-37oC)
-    Nadi normal (70-75 x/menit)
-    RR normal (15-20 x/menit)
-    Akral hangat
-    Mukosa bibir lembab
Rt        :  1.   jelaskan pada pasien sebab akibat terjadinya panas.
                     R/ keluarga dapat mengerti dan kooperatif dalam tindakan.
2.      Beri kompres dingin/panas
R/ pemindahan panas secara konduksi
3.      berikan pakaian tipis dan menyerap keringat
R/ pemindahan panas secara evaporasi
4.      ventilasi ruangan tetap stabil
R/ pemindahan panas asecara radiasi
5.      anjurkan pasien untuk minum air banyak
R/ untuk mengganti cairan yang hilang
6.      lakuklan obeservasi TTV
R/ monitor keadaan pasien dalam pemberian terapi
7.      lakukan kolab dengan dokter dalam pmberian terapi
-          cairan perinfus
-          antipiretik dan antibiotik
R/ fungsi interdependent
DX : 2
Perubahan nutrisi (kurang dari kebutuhan) berhubungan dengan anorixia d/d mual, muntah dan perut kembung.
Tujuan :  Kebutuhan nutrisi dapat terpenuhi
Kh       :  -     adanya selera makan
-          tidak terjadi mual dan muntah
-          klien dapat mempertahankan BB nya
-          pasien dapat menghabiskan makanan setiap waktu makan
Rt        :  1.   beri penjelasan pada pasien dan keluarga tentang pentingnya nutrisi pasien
                     R/ keluarga dan pasien mengerti dan kooperatif
2.      sajikan makanan yang menarik, merangsang selera dan dalam suasana menyenangkan
R/ meningkatjkan selera makan
3.      berikan makanan dalam porsi kecil tapi sering
R/ makanan dalam porsi besar lebih sulit di konsumsi pasien saat anorexia.
4.      lakukan perawatan mulut sesudah dan sebelum makan
R/ mengurangi rasa tidak nyaman dan meningkatkan selera makan
5.      monitor intake dan out put
R/ mengetahui jumlah nutrisi yang masuk
6.      timbanmg BB tiap hari
R/ memonitor hasil asuhan yang dioberikan
7.      kolaborasoi dengan dokter dalam pemberian nutrisi parental dan roboransia
R/ dibutuhkan bila intake per oral tidka mencukupi efek farmakologis regorantia untuk meningkatkan nafsu makan.
8.      kolaborasi dengan ahli tim gizi

R/ memberikan bantuan untuk menetapkan diet

Jumat, 17 Mei 2013

ABNORMALITAS SEKSUAL



ABNORMALITAS SEKSUAL

Oleh : Narendra tahta patria

Abnormalitas seksual adalah aktivitas seksual yang ditempuh seseorang untuk mendapatkan kenikmatan seksual dengan tidak sewajarnya. Biasanya, cara yang digunakan oleh orang tersebut adalah menggunakan obyek seks yang tidak wajar. Penyebab terjadinya kelainan ini bersifat psikologis atau kejiwaan, seperti pengalaman sewaktu kecil, dari lingkungan pergaulan, dan faktor genetik
Secara klinis, tingkah laku seksual yang abnormal pada umumnya berasosiasi dengan melemahnya atau rusaknya kemampuan untuk menghayati hubungan-hubungan seksual yang bisa saling memuaskan dari lawan jenis kelamin. Pada tingkah laku seksual yang normal dan sehat, hubungan heteroseksual berlangsung dalam suasana penuh afeksi dan saling memuaskan, saling memberi dan menerima kasih sayang dan kenikmatan. Sebaliknya, pada tingkah laku seksual yang abnormal sering berjalan tanpa ada diskriminasi (tanpa ada perbedaan, semua sama saja, ada rasa yang datar, tanpa afeksi) terhadap partnernya, bahkan tanpa memperdulikan sama sekali perasaan partnernya.
 Berikut ini macam-macam bentuk penyimpangan seksual:
1.Homoseksual
Homoseksual merupakan kelainan seksual berupa disorientasi pasangan seksualnya. Disebut gay bila penderitanya laki-laki dan lesbi untuk penderita perempuan. Hal yang memprihatinkan disini adalah kaitan yang erat antara homoseksual dengan peningkatan risiko AIDS. Pernyataan ini dipertegas dalam jurnal kedokteran Amerika (JAMA tahun 2000), kaum homoseksual yang “mencari” pasangannya melalui internet, terpapar risiko penyakit menular seksual (termasuk AIDS) lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak.
2.Sadomasokisme
Sadisme seksual termasuk kelainan seksual. Dalam hal ini kepuasan seksual diperoleh bila mereka melakukan hubungan seksual dengan terlebih dahulu menyakiti atau menyiksa pasangannya. Sedangkan masokisme seksual merupakan kebalikan dari sadisme seksual. Seseorang dengan sengaja membiarkan dirinya disakiti atau disiksa untuk memperoleh kepuasan seksual.
3.Ekshibisionisme
Penderita ekshibisionisme akan memperoleh kepuasan seksualnya dengan memperlihatkan alat kelamin mereka kepada orang lain yang sesuai dengan kehendaknya. Bila korban terkejut, jijik dan menjerit ketakutan, ia akan semakin terangsang. Kondisi begini sering diderita pria, dengan memperlihatkan penisnya yang dilanjutkan dengan masturbasi hingga ejakulasi.
4.Voyeurisme
Istilah voyeurisme (disebut juga scoptophilia) berasal dari bahasa Prancis yakni vayeur yang artinya mengintip. Penderita kelainan ini akan memperoleh kepuasan seksual dengan cara mengintip atau melihat orang lain yang sedang telanjang, mandi atau bahkan berhubungan seksual. Setelah melakukan kegiatan mengintipnya, penderita tidak melakukan tindakan lebih lanjut terhadap korban yang diintip. Dia hanya mengintip atau melihat, tidak lebih. Ejakuasinya dilakukan dengan cara bermasturbasi setelah atau selama mengintip atau melihat korbannya. Dengan kata lain, kegiatan mengintip atau melihat tadi merupakan rangsangan seksual bagi penderita untuk memperoleh kepuasan seksual. Yang jelas, para penderita perilaku seksual menyimpang sering membutuhkan bimbingan atau konseling kejiwaan, disamping dukungan orang-orang terdekatnya agar dapat membantu mengatasi keadaan mereka.
5.Fetishisme
Fatishi berarti sesuatu yang dipuja. Jadi pada penderita fetishisme, aktivitas seksualnya disalurkan melalui bermasturbasi dengan BH (breast holder), celana dalam, kaos kaki, atau benda lain yang dapat meningkatkan hasrat atau dorongan seksual. Sehingga, orang tersebut mengalami ejakulasi dan mendapatkan kepuasan. Namun, ada juga penderita yang meminta pasangannya untuk mengenakan benda-benda favoritnya, kemudian melakukan hubungan seksual yang sebenarnya dengan pasangannya tersebut.
6. Pedophilia / Pedophil
Adalah orang dewasa yang yang suka melakukan hubungan seks / kontak fisik yang merangsang dengan anak di bawah umur.
7.Bestially
Bestially adalah manusia yang suka melakukan hubungan seks dengan binatang seperti kambing, kerbau, sapi, kuda, ayam, bebek, anjing, kucing, dan lain sebagainya.
8.Incest
Adalah hubungan seks dengan sesama anggota keluarga sendiri non suami istri seperti antara ayah dan anak perempuan dan ibu dengna anak cowok
9.Necrophilia/Necrofil
Adalah orang yang suka melakukan hubungan seks dengan orang yang sudah menjadi mayat / orang mati.
10.Zoophilia
Zoofilia adalah orang yang senang dan terangsang melihat hewan melakukan hubungan seks dengan hewan.
11.Sodomi
Sodomi adalah pria yang suka berhubungan seks melalui dubur pasangan seks baik pasangan sesama jenis (homo) maupun dengan pasangan perempuan.
12.Frotteurisme/Frotteuris
Yaitu suatu bentuk kelainan sexual di mana seseorang laki-laki mendapatkan kepuasan seks dengan jalan menggesek-gesek / menggosok-gosok alat kelaminnya ke tubuh perempuan di tempat publik / umum seperti di kereta, pesawat, bis, dll.
13.Gerontopilia
adalah suatu perilaku penyimpangan seksual dimana sang pelaku jatuh cinta dan mencari kepuasan seksual kepada orang yang sudah berusia lanjut (nenek-nenek atau kakek-kakek). Gerontopilia termasuk dalam salah satu diagnosis gangguan seksual, dari sekian banyak gangguan seksual seperti voyurisme, exhibisionisme, sadisme, masochisme, pedopilia, brestilia, homoseksual, fetisisme, frotteurisme, dan lain sebagainya. Keluhan awalnya adalah merasa impoten bila menghadapi istri/suami sebagai pasangan hidupnya, karena merasa tidak tertarik lagi. Semakin ia didesak oleh pasangannya maka ia semakin tidak berkutik, bahkan menjadi cemas. Gairah seksualnya kepada pasangan yang sebenarnya justru bisa bangkit lagi jika ia telah bertemu dengan idamannya (kakek/nenek).
Manusia itu diciptakan Tuhan sebagai makhkluk sempurna, sehingga mampu mencintai dirinya (autoerotik), mencintai orang lain beda jenis (heteroseksual) namun juga yang sejenis (homoseksual) bahkan dapat jatuh cinta makhluk lain ataupun benda, sehingga kemungkinan terjadi perilaku menyimpang dalam perilaku seksual amat banyak. Manusia walaupun diciptakanNya sempurna namun ada keterbatasan, misalnya manusia itu satu-satunya makhluk yang mulut dan hidungnya tidak mampu menyentuh genetalianya; seandainya dapat dilakukan mungkin manusia sangat mencintai dirinya secara menyimpang pula. Hal itu sangat berbeda dengan hewan, hampir semua hewan mampu mencium dan menjilat genetalianya, kecuali Barnobus (sejenis Gorilla) yang sulit mencium genetalianya. Barnobus satu-satunya jenis apes (monyet) yang bila bercinta menatap muka pasangannya, sama dengan manusia. Hewanpun juga banyak yang memiliki penyimpangan perilaku seksual seperti pada manusia, hanya saja mungkin variasinya lebih sedikit, misalnya ada hewan yang homoseksual, sadisme, dan sebagainya.
Kasus Gerontopilia mungkin jarang terdapat dalam masyarakat karena umumnya si pelaku malu untuk berkonsultasi ke ahli, dan tidak jarang mereka adalah anggota masyarakat biasa yang juga memiliki keluarga (anak & istri/suami) serta dapat menjalankan tugas-tugas hidupnya secara normal bahkan kadang-kadang mereka dikenal sebagai orang-orang yang berhasil/sukses dalam karirnya. Meski jarang ditemukan, tidaklah berarti bahwa kasus tersebut tidak ada dalam masyarakat Indonesia.